NasionalPemerintahPolitik

Berkuasanya Para Pemabuk Di Negeri Republik

Wajahriau.com – Entah apa lagi kata-kata yang bagus untuk dipilih untuk merobek-robek otoritarianisme yang menyembunyikan dirinya di balik topeng hipokratisme. Bangsa ini sudah teramat jenuh dengan prematur-prematur yang berkuasa, maka tidak lain disebabkan prematur yang berdaulat itu, yang memenuhkan ruang publik hanyalah pengambilan policy (kebijakan) yang serba amatiran, tempurung kepala yang kosong dari cakrawala kehidupan bernegara dan berbangsa, dan retorika yang terlepas dari kekayaan persoalan-persoalan kehidupan. Setiap saat otoritarianisme itu hanya mengundang sakit hati dan perasaan jijik. Keramah-tamahan yang semula terjalin dalam ikatan persaudaraan yang kuat antar sesama warga negara menjadi rusak akibat pembusukan. Sampai kapan arogansi prematur itu terus menyalakan kegeraman, kebencian dan muak yang menunggu momentum untuk meledak.

Kita saksaikan hari ini penguasa sangat hobi menuduh-nuduh tidak tentu arah. Radikal lah, ekstrim lah, anti NKRI lah, anti Kebhinekaan lah, Intoleran lah. Lalu tampillah si prematur yang mabuk itu berusaha menengahi konflik dan meyakinkan rakyat, dengan jubah kewibawaannya yang terjuntai ia lalu melangkah menuju mimbar, dengan bijaksana ia membacakan syair-syair perdamaian yang merdu sekali, katanya, “Saya Indonesia, Saya Pancasila”, “NKRI Harga Mati”, “Tolak Radikalisme, Ekstrimisme, Intoleransi!”, “Mari Kita Rajut Kembali Tenun Kebangsaan”. Kita bertanya, apa pemikiran sempit yang terkungkung dibalik kacamata kuda itu dapat memberikan legitimasi atas tuduhan-tuduhan bodoh seperti itu?. Apakah penguasa memandang rakyat di negeri ini simpatisan atau kader koalisinya yang dapat merasakan atau mampu meresapi merdunya syair-syair pembodohan, kolot, kuno, terbelakang, amatiran, arogan, naif dan busuk itu.

Lama si Bapak Republik-Tan Malaka merenungkan dan berfikir di celah-celah jeruji ke jeruji, terutama saat Bung Besar memerintahkan Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin memenjarakan dirinya. Dituduh melakukan agitasi, menghalangi perundingan Tuan Perdana Menteri Sutan Sjahrir dengan Belanda, yakni perundingan yang mempertaruhkan kedaulatan dan harapan ribuan nyawa yang melayang membayangkan bangsa ini suatu saat memiliki negara sendiri, dapat hidup dengan damai di negeri sendiri. Sebab bagi Tan, Indonesia Merdeka 100% tak bisa di tawar-tawar, bahwa Tuan rumah takkan memilih berunding dengan maling yang menjarah rumahnya. Kedaulatan tidak untuk dijadikan barang taruhan dalam perjudian perjuangan kemerdekaan.

Hingga Ki Bagus Hadikusumo wafat dalam penantian yang panjang, kematian yang masih membawa harapan agar luhurnya hukum tuhan yakni syari’at Islam mendapat tempat strategis dalam bangunan negeri yang baru saja di merdekakan dengan pergorbanan yang tak ternilai besar harganya. Bagaimana Bung Kasman Singodimejo akhirnya hanya bisa menangis terisak, meratapi kesalahannya. Penyesalan yang merenyuhkan tulang belulang di badannya. “Aku menyesal mengapa dahulu aku menuruti kemauan Tuan Hatta untuk membujuk Ki Bagus Hadikusumo agar merelakan dihapuskannya tujuh kata dalam Piagam Jakarta”, ujarnya. Sempat ditolak namun Kasman dengan kecakapannya berhasil juga meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo bahwa Bung Besar telah berjanji bahwa kelak jika kita telah bernegara dalam suana yang lebih tentram, kita akan mengumpulkan kembali Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membicarakan aspirasi Islam.

Namun janji tinggal janji, janji politik memang tidak mengenal moral untuk pemenuhannya, sehingga seharusnya tidak perlu dipercaya. Saat momentum penghapusan tujuh kata itu benar-benar akan terjadi, Ki Bagus dengan dada yang lapang menyetujuinya, tetapi kata Ketuhanan itu tidak dibiarkan begitu saja dalam dasar negara, tapi harus ditambah dengan tiga kata, yaitu Yang Maha Esa. Sehingga jadilah dasar negara itu sampai hari ini rumusan sila pertamanya “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tatkala negara terombang dihempas badai perserikatan RIS, di saat kepanikan menimpa founding fathers lainnya, pada 03 April 1950 Moh. Natsir dengan kepiawaiannya dan langkah yang mengayun kokoh majulah dia menyampaikan Mosi Integral di hadapan Moh. Hatta. Sang Negarawan Konstitusional itu menyerukan agar RIS kembali bersatu melebur menjadi NKRI. Mosi Integral diterima Hatta dan upaya mengembalikan NKRI dimulai, NKRI pun berdiri kembali sampai saat ini.

Hanya orang yang tak ber-akal mengatakan tidak mungkin NKRI bubar, bahkan di masa awal berdirinya NKRI di masa founding fathers baru akan merasakan euforia kemerdekaan, NKRI malah bubar dan bertransformasi menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat) dengan 16 negara bagian. Berkat Mosi Integral Moh. Natsir, tokoh pejuang sentral Masyumi berhasil menyelamatkan NKRI. Ingatlah bagaimana Sjafruddin Prawiranegara berhasil menyelamatkan eksistensi NKRI pada 19 Desember 1948 di mata dunia saat terjadi agresi militer Belanda, di saat yang gawat dan genting Dwi Tunggal Soekarno-Hatta ditangkap Belanda. Bung Karno, Sjahrir dan KH. Agus Salim diasingkan ke Berastagi lalu ke Prapat, Sumatera Utara. Sedangkan Bung Hatta dan beberapa menteri diasingkan ke Bangka. Sjafruddin dengan sigap membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang berkedudukan di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, dimana beliau sendiri bertindak sebagai Presiden dalam keadaan darurat, lalu beliau membentuk kabinetnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa NKRI masih ada, dan akan terus ada sekalipun Soekarno-Hatta di tangkap, namun pemerintah tetap ada.

Bahwa propaganda Belanda yang mengatakan NKRI sudah tidak ada lagi dan tentara-tentara yang bergeriliya tidak lebih daripada ekstrimis-ekstrimis yang membuat kekacauan. Semua itu dibantah oleh Sjafruddin Prawiranegara dengan PDRI nya. Kendatipun sebelumnya Bung Karno mengirimkan dua buah telegram kepada Sjafruddin yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran agar segera membentuk pemerintahan darurat, namun telegram itu terlambat sampai pada Sjafruddin, dengan kata lain Sjafruddin tidak mengetahui keberadaan telegram itu. Sjafruddin baru mengetahui telegram itu ketika PDRI telah dibentuk. Ini adalah kondisi yang benar-benar gawat dan sangat mengkhawatirkan, sebab andai Sjafruddin tidak cepat-cepat mengambil tindakan membentuk PDRI entah bagaimana nasib NKRI ini. Sebab kepiawaiannya itu sejarah menobatkan Sjafruddin Prawiranegara sebagai “Sang Penyelamat Republik”. Demikian founding fathers berjuang mempertahankan dan menyelamatkan republik.

Kini nasib republik sangat tragis, babak belur dicabik-cabik para pemabuk yang memegang kekuasaan. Negeri ini digadaikan, dijual dengan harga murah kepada asing, kekayaan alamnya di rampok, di bawa kabur dan di investasikan di luar negeri. Hukum amburadul sebab di dikte oleh kapitalis, keadilan tidak kunjung tegak sebab kaki-kaki keadilan sudah ditebas, dipotong, di bakar dan di buang ke tempat pembuangan sisa-sisa makanan kapitalis. Gerakan intelektual anak kandung bapak-bapak republik yang digaungkan oleh mahasiswa belum mampu menurunkan para pemapubuk itu dari kekuasaan. Di bawah kekuasaan para pemabuk itu keadaan menjadi sangat kacau, orang waras menjadi ragu dengan kewarasannya, orang sehat dibuat ragu dengan kesehatannya, sebab semua orang gila dan semua orang sakit menyalahkannya.

Nasehat intelektual yang disampaikan tidak pernah masuk ke dalam telinga para pemabuk yang mulai bernanah itu sebab terlalu lama membiarkan penyakit. Semua yang berbeda pandangan politik, suara-suara oposisi, suara-suara pembaharuan, pikiran-pikiran pencerahan selalu diberangus, tidak dibiarkan tumbuh dan hidup mendidik bangsa ini membebaskan bangsa ini dari pembodohan dan penjajahan penguasa pada bangsa sendiri. Para pemabuk itu tak lain adalah mereka yang setiap harinya teriak-teriak NKRI Harga Mati, Saya Indonesia Saya Pancasila, hobi menuduh radikal, ekstrim, anti NKRI, anti Pancasila, anti Kebhinekaan, Intoleran, yang semuanya itu di alamatkan kepada Islam atau kepada tokoh-tokoh Islam yang berbeda pandangan politik dengan penguasa yakni dengan para pemabuk yang sedang berkuasa.

Penulis: Syahdi Firman S. H (Ketua Divisi Penelitian Dan Pelatihan Lembaga Studi Hukum Mahasiswa Islam Cabang Pekanbaru)

Editor: daus

Tags
Menampilkan lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button
Close
Close