Takluknya Keangkuhan Sang Raja Dihadapan Permaisuri Yang Soleha

Siapa yang tidak kenal dengan Firaun, ia dikenal sebagai seorang penguasa kejam, dzalim, dan ditakuti pada masanya. Tak ada satu pun orang berani membangkang perintahnya.

Al Qur’an surah An-Nazi’at ayat 24 mengisahkan, bahwa Firaun mengumpulkan seluruh rakyatnya kemudian dia mengaku sebagai tuhan yang paling tinggi dan tak ada satu pun yang berani membantah.

Sebagai penguasa yang kejam, ia bahkan membuat sebuah perintah kepada seluruh algojonya untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir pada waktu itu. Bukan tampa sebab, hal ini ia lakukan karna tafsir mimpinya yang didapat dari para ahlil nujum kepercayaan kerajaannya pada waktu itu.

Hal ini juga turut dikisahkan dalam Al Quran surah Al-Baqarah ayat 49. Dimana ia memerintahkan algojonya untuk menyembelih setiap bayi laki-laki yang lahir. Untuk bayi perempuan dibiarkan hidup.

Begitu banyak riwayat kekejaman seorang raja “Firaun” dikisahkan didalam alquran, sehingga sampai hari ini cerita itu tetap utuh dan sentiasa menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Begitu banyak perihal dan cerita yang mengisahkan bahwa begitu luar biasanya pengakuan Firaun terhadap dirinya sebagai sang penguasa dimasa itu bahwa dialah sang  Tuhan “yang mahamencipta”.

Namun, kekuasaan  yang sebegitu besar ternyata tidak berdaya di hadapan seorang wanita. Dengan segala kerendahan dan ketidak berdayaannya, ia mampu menusuk jiwa Firaun sebagai penguasa dan raja. Siapa dia? Ya dialah Asiyah binti Muzahim, istri soleha yang sangat dicintai dan disayangi oleh Firaun, biarpun firaun mengaku bahwa dialah sang pencipta, dan ia juga kejam, namun sungguh ia tidak berdaya dihadapan istrinya “Asiyah binti Muzahim”.

Peristiwa bermula dikala sang penguasa dan Asiyah duduk bersama di pinggir sungai Nil di pojok istananya yang begitu indah nan megah. Namun Tatkala sang istri dikejutkan dengan pemandangan dari sebuah peti yang terapung di atas air sungai yang mengalir, dan seketika itu didapatinya seorang bayi laki-laki yang mungil dengan segala keindahan bentuk dan karunia yang dimilikinya. Lalu dengan lantang dia berkata, inilah hadiah dari langit. “Ini anakku,” ungkap Siti Asiyah sang istri soleha.

Disaat sang suami (Firaun) begitu gencarnya memerintahkan setiap algojo untuk menghabisi setiap anak laki-laki yang lahir pada saat itu, Namun dia sendiri tidak berdaya untuk meminta Asiyah untuk menyerahkan bayi “Musa” yang begitu dikasihi. Firaun hanya menyuruh para algojo taatnya untuk datang  menemui Asiyah. Seketika saja Mereka meminta bayi tersebut untuk dibunuh.  Dengan amarah Asiyah murka dan menghardik mereka. “Pergilah kalian dari hadapanku. Karena aku tidak akan memberikan bayi ini kepada siapa pun,” kata Asiyah. Firaun yang dibayang-bayangi ketakutan akibat tafsir atas mimpinya, awalnya tetap berusaha untuk meminta bayi “Musa” tersebut agar dibunuh.

“Tidak, anak ini tetap harus disembelih. Aku takut, jika dia berasal dari kalangan Bani Israil, kemudian menghancurkan kerajaan kita,” kata Firaun kepada Asiyah.

Tidak putus asa, Asiyah tiada hentinya  merayu sehingga sang raja tidak berdaya.

Al Quran, surah al Qashash ayat 9, mengisahkan, bahwa kepada Firaun Asiyah berkata, “(Ia, bayi kecil) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak. Sedang mereka tiada menyadari.

Akhirnya Dia “Firaun” mengizinkan bayi kecil Musa  untuk dirawat di istananya. Bahkan saat  Asiyah mencarikan seorang ibu untuk menyusui Musa kecil pun, Firaun tak berani untuk menolaknya.

Sungguh Allah maha bijaksana lagi tahu, tampa mereka sadari, perempuan yang mendapatkan kesempatan untuk menyusui Musa tersebut  tak lain tak bukan adalah ibu kandungnya, sehingga Musa dirawat hingga dewasa dan menjadi laki-laki perkasa, cerdas dan bijaksana, juga patuh pada sang pencipta.

Mimpi Firaun itu akhirnya menjadi benar dan nyata, akan tiba masanya anak laki-laki itu “Musa” akan memeranginya dengan gagah perkasa, dan begitulah takdir dan ketentuan dari yang maha kuasa. Mengajarkan kepada kita arti sebuah makna, sesungguhnya tiada satupun manusia yang kuasa, bahkan tiada satupun manusia yang mengetahui apa yang menjadi ketentuan dan juga rencananya.

Menarik Lainnya Dari penulis yang sama